Suaranusantara.com- Kabar menggembirakan datang dari New York Stock Exchange. Saham-saham besar kembali naik setelah laporan keuangan kuartalan menunjukkan hasil yang lebih baik dari prediksi.
Di antara yang paling menonjol adalah Amazon, yang sukses membukukan pertumbuhan signifikan di lini bisnis komputasi awannya, seiring meningkatnya kebutuhan teknologi berbasis AI di seluruh dunia.
CEO Amazon, Andy Jassy, menjelaskan bahwa peningkatan pendapatan tersebut didorong oleh melonjaknya permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) serta penguatan infrastruktur digital perusahaan. Hasil positif itu langsung memberi dampak luas ke saham-saham teknologi lain yang masih satu ekosistem dengan Amazon.
Di sektor serupa, saham Palantir Technologies naik 3,04 persen, sementara Oracle menguat 2,23 persen. Kenaikan kompak di sektor teknologi tersebut turut mengangkat tiga indeks utama Wall Street—Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq—ke zona hijau. Aktivitas beli asing yang terus berlanjut dan laporan keuangan positif dari sejumlah emiten besar diperkirakan menjadi pendorong utama tren bullish di bursa global.
Namun di sisi lain, pasar emas global justru menunjukkan arah sebaliknya. Harga emas yang terus melemah diprediksi menjadi faktor penahan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di awal pekan ini. Meski demikian, analis memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak variatif dengan kecenderungan menguat, dengan area support di kisaran 8.045–8.105 dan resistance pada level 8.225–8.280.
Berdasarkan analisis Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia, pelaku pasar disarankan untuk mulai mengoleksi saham-saham unggulan seperti Bank BRI (BBRI), Bank BCA (BBCA), Japfa Comfeed (JPFA), Unilever Indonesia (UNVR), Dharma Satya Nusantara (DSNG), dan London Sumatera Plantations (LSIP). Saham-saham tersebut dinilai memiliki fundamental kuat dan potensi kenaikan yang menarik dalam jangka pendek.


















Discussion about this post