Suaranusantara.com- Pergerakan kurs rupiah hari ini kembali jadi perhatian pelaku pasar setelah dinamika global memicu perubahan arah di pasar keuangan Asia.
Nilai tukar rupiah kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Selasa (24/2/2026). Tekanan datang seiring menguatnya dolar Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik yang memicu sikap hati-hati investor global.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung melepas aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Berdasarkan pantauan perdagangan pasar spot pada pukul 09.04 WIB, rupiah tercatat melemah 33 poin atau sekitar 0,2 persen dan berada di level Rp16.835 per dolar Amerika Serikat. Pada saat yang sama, indeks dolar menunjukkan penguatan tipis ke kisaran 97,78, mencerminkan minat investor terhadap aset berdenominasi dolar yang kembali menguat.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari pelemahan serentak mata uang Asia. Sejumlah mata uang regional bergerak turun tipis terhadap dolar, mencerminkan meningkatnya sentimen penghindaran risiko di pasar global. Situasi ini terjadi seiring kekhawatiran atas potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang kembali menjadi sorotan pelaku pasar internasional.
Analis dari Commonwealth Bank of Australia, Samara Hammoud, menilai bahwa potensi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan volatilitas pasar mata uang dalam sepekan ke depan. Menurutnya, ketegangan geopolitik berisiko mendorong investor memilih posisi aman dan menekan mata uang di kawasan Asia.
Ia juga menyoroti langkah diplomatik Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang memerintahkan staf non-esensial meninggalkan Kedutaan Besar AS di Beirut, Lebanon. Kebijakan tersebut dipandang mempertegas kekhawatiran pasar terhadap potensi meningkatnya konflik di kawasan.
Di sisi lain, pelemahan rupiah hari ini terjadi setelah sehari sebelumnya mencatatkan penguatan. Pada penutupan perdagangan Senin (23/2/2026), mata uang Garuda sempat menguat signifikan dan ditutup di level Rp16.802 per dolar AS. Namun, perubahan sentimen global dengan cepat membalikkan arah pergerakan rupiah di awal perdagangan hari berikutnya.
Sejalan dengan rupiah, beberapa mata uang Asia lain juga terpantau melemah tipis terhadap dolar AS. Pergerakan ini mengindikasikan bahwa tekanan datang dari faktor eksternal yang memengaruhi kawasan secara luas, bukan semata dari sentimen domestik.


















Discussion about this post