Suaranusantara.com- Pergerakan rupiah pada Rabu (25/2/2026) pagi kembali berada di bawah tekanan dolar AS. Penguatan tipis indeks dolar, ditambah sentimen geopolitik global dan faktor domestik, membuat rupiah membuka perdagangan dengan kecenderungan melemah.
Pada pasar spot pukul 09.04 WIB, rupiah terpantau berada di level Rp 16.842 per dolar AS atau melemah sekitar 0,08 persen. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya, ketika rupiah ditutup di kisaran Rp 16.829 per dolar AS.
Sentimen eksternal masih didominasi ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah. Investor mencermati perkembangan hubungan Iran dan Amerika Serikat, termasuk agenda perundingan nuklir lanjutan yang akan digelar di Jenewa. Situasi tersebut mendorong minat terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai, sehingga menekan mata uang negara berkembang.
Selain faktor geopolitik, dinamika kebijakan perdagangan AS juga ikut membayangi pasar. Setelah kebijakan tarif lama dianulir oleh Mahkamah Agung, muncul wacana penerapan bea masuk baru dengan dasar hukum berbeda. Ketidakpastian arah kebijakan ini membuat pelaku pasar global bersikap wait and see.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi oleh kondisi fiskal. Realisasi penarikan utang pemerintah di awal 2026 sudah mencapai sekitar 15 persen dari target APBN tahunan. Di saat yang sama, pembiayaan non-utang masih mencatatkan defisit, sehingga ruang pembiayaan tanpa menambah utang dinilai belum optimal.
Dengan kombinasi sentimen tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan berfluktuasi sepanjang hari dengan kecenderungan berada di zona lemah.


















Discussion about this post