
Jakarta-SuaraNusantara
Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro menilai kondisi perekonomian global jauh dari cerah. Potensi perlambatan (ekonomi) terjadi di mana-mana, sehingga kondisi perekonomian tahun depan tidak akan jauh berbeda dengan kondisi saat ini. Pandangan Bambang tersebut diperolehnya usai menghadiri pertemuan G20 di Chengdu, China akhir pekan lalu.
“Akhir pekan kemarin saya ke China, dalam pengantarnya, IMF baru saja merevisi turun pertumbuhan ekonomi global. Ada tendensi revisi ke bawah itu menegaskan kondisi ekonomi global jauh dari cerah. Karena, potensi perlambatan terjadi dimana-dimana,” ujar Bambang di hadapan anggota pasar modal di Ritz Carlton Pacific Place, Selasa (26/7/2016).
Salah satu sebab potensi perlambatan tersebut karena keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). Ketidakpastian akibat Brexit membuat IMF memprediksi ekonomi global hanya tumbuh 3,1 persen tahun ini dan 3,4 persen pada tahun 2017. Proyeksi itu mengalami penurunan 0,1 persen untuk masing-masing tahun terhadap IMF World Economic Outlook April.
“Cerminan terakhir Brexit, ini menjadi hal yang perlu diwaspadai, karena ini termasuk volatilitas pasar global. Yang terjadi saat ini berbeda dengan krisis finansial Asia yang dahulu. Kondisi saat ini menjadi susah ditebak. Intinya kita harus siap dengan keuangan global yang volatil ke depannya,” ujarnya.
Penyebab lainnya, lanjut Bambang, perlambatan ekonomi Cina juga turut memengaruhi ketidakpastian ekonomi dunia, dan dampaknya terhadap ekonomi Indonesia. Ditambah data peryumbuhan ekonomi Cina yang mengalami penurunan menajdi berada di posisi dibawah tujuh persen. Tidak hanya itu, penurunan harga komoditas sejak 2012 juga ikut berpengaruh, sejalan dengan tren melemahnya harga minyak dunia sejak 2014.
“Untuk tahun depan kondisi perekonomian global masih bergejolak dan dapat mempengaruhi perekonomian di negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Salah satunya seperti adanya rencana kenaikan suku bunga Fed Rate di Desember 2015 ini akan mempengaruhi di awal tahun,” katanya.
Melihat hal tersebut, Bambang mengingatkan pemerintah dan Bank Indonesia harus mengatur strategi, mulai dari pengelolaan fiskal hingga moneter yang kuat untuk meredam gejolak dari eksternal.
“Kami benar-benar harus memperkuat fundamental perekonomian Indonesia atau makro. Apakah itu dari sisi moneter maupun fiskal. Ini yang bisa kami lakukan,” katanya. (eka)
















