Suaranusantara.com- Pada awal perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak positif, menunjukkan tren hijau yang menggembirakan para pelaku pasar.
Data dari RTI menunjukkan bahwa pada pukul 9.03 WIB, IHSG berada di level 6.859,63, mengalami kenaikan sebesar 0,31 persen (21,32 poin) dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level 6.838,31.
Sebanyak 178 saham mencatatkan kinerja positif dengan bergerak di zona hijau, sementara 119 saham lainnya berada di zona merah. Adapun 228 saham stagnan, menciptakan suasana perdagangan yang dinamis. Transaksi saham hingga saat ini mencapai Rp 228,7 miliar dengan volume perdagangan sebesar 384,82 miliar saham.
Menurut analisis William Hartanto, pendiri WH Project, IHSG memiliki potensi untuk melanjutkan penguatannya jika distribusi saham yang mengalami kenaikan semakin merata.
Uptrend sudah dimulai pada perdagangan sebelumnya, dan secara teknikal, IHSG sedang menguji level resistance 6.850 setelah berhasil mempertahankan level 6.800. Proyeksi arah pergerakan selanjutnya adalah menguat.
Di sisi Asia, mayoritas pasar saham pagi ini berada di teritori positif. Nikkei menguat 0,71 persen, Hang Seng Hong Kong bertambah 0,13 persen, dan Shanghai Komposit naik 0,18 persen. Meskipun demikian, Strait Times mengalami penurunan sebesar 0,23 persen.
Pertumbuhan positif juga terlihat pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot pagi ini. Pada pukul 9.00 WIB, rupiah berada di level Rp 15.695 per dolar AS, mengalami kenaikan 6 poin atau 0,04 persen dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp 15.701 per dolar AS.
Meski rupiah mengalami kenaikan, pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra menyatakan bahwa mata uang tersebut masih dalam tren melemah. Faktor-faktor seperti kebijakan suku bunga tinggi AS, konflik di jalur Gaza, dan pelambatan ekonomi masih menjadi fokus pasar. Ariston memproyeksikan potensi pelemahan rupiah hari ini ke arah Rp 15.750 per dolar AS, dengan potensi support di sekitar Rp 15.680 per dolar AS.
Malam ini, pasar akan memantau data inflasi konsumen AS bulan Oktober, yang dianggap memiliki dampak signifikan terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga AS ke depan.(kml)

















Discussion about this post