Suaranusantara.com- Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono angkat bicara soal adanya mantan prajurit TNI yang terlibat dalam pemasokan senjata dan amunisi ke Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka atau TPNPB-OPM.
Dave Laksono mengatakan adanya pemasokan senjata dan amunisi yang melibatkan mantan prajurit TNI, maka ini harus diawasi secara ketat baik itu persenjataan maupun amunisi.
“Ya berarti ini harus ada pengawasan ketat pada baik secara amunisinya dan juga persenjataannya,” ujar Dave ditemui awak media di Kompleks Gedung DPR Senayan Jakarta Selasa 18 Maret 2025.
Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa yang telah dibelikan atau dibelanjakan oleh negara mengingat pembelian senjata dan amunisi juga menggunakan uang pajak dari rakyat. Maka jangan sampai diperjualbelikan untuk kepentingan pribadi. Serta dapat merusak kestabilan dan keamanan.
Sebelumnya, Satgas Damai Cartenz mulai mengungkap sejumlah pemasok senjata api ilegal ke OPM.
Berdasarkan hasil penyelidikan, terdapat tiga pemasok yang menyuplai senjata api dan amunisinya ke kelompok kriminal bersenjata itu.
Adapun pada awal tahun 2025 mulai terkuak penyuplai senjata api ilegal untuk TPNPB-OPM.
Pengungkapan itu bermuara saat Satgas Damai Cartenz dan Polda Papua menangkap dua mantan prajurit TNI yang terlibat dalam pemasokan senjata ke OPM.
Dua mantan prajurit TNI itu yakni bekas anggota Komando Daerah Militer XVIII/Kasuari, yaitu Yuni Enumbi dan Eko Sugiyono.
Keduanya pun telah diberhentikan dari TNI sejak 2022 karena keterlibatan keduanya dalam penyelundupan senjata ilegal ke TPNPB-OPM.
Berangkat dari pengungkapan kasus itu, aparat kepolisian kembali menangkap jaringan pemasok senjata untuk tentara OPM.
Polda Papua dan Polda Jawa Timur menangkap jaringan pembuat senjata ilegal yang bermarkas di Bojonegoro, Jawa Timur.
Jaringan itu terdiri dari Teguh Priyono, M. Kamaluddin, Pujiono, M. Herianto, dan Adi Pamungkas. Kecuali Herianto, nama-nama tersebut beserta Yuni dan Eko ditetapkan sebagai tersangka penjualan senjata api kepada TPNPB-OPM.
Yuni Enumbi disebut memiliki peran penting dalam jaringan ini. Dia berperan sebagai penyandang dana dan penyuplai senjata ke TPNPB OPM pimpinan Lerimayu Telenggen di Distrik Puncak Jaya, Papua.
Sementara, Eko Sugiyono berperan sebagai penghubung antara Yuni Enumbi dan para perakit senjata di Bojonegoro. Dia merupakan rekan Yuni Enumbi semasa berdinas di Komando Daerah Militer Kausari.
Sumber pasokan senjata untuk TPNPB-OPM juga berasal dari luar negeri. Ketua Satgas Damai Cartenz Komisaris Besar Faisal Ramdhani mengatakan, dalam kurun 2020 hingga 2024, pasokan senjata yang disita terbanyak berasal dari Mindanao Selatan, Filipina.
“Hampir sebagian besar penindakan sejak 2020 hingga 2024 itu didominasi berasal dari Mindanao Selatan,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa, 11 Maret 2025.
Dia juga tak menampik bila sejumlah kasus penyelundupan senjata ilegal ke OPM berasal dari aparat keamanan.
Keterlibatan tentara dan polisi di jaringan ini tak hanya dalam urusan transaksi langsung, melainkan sebagai penghubung untuk pengadaan pasokan senjata ilegal itu.
Dalam empat tahun terakhir, pihak kepolisian telah menyita 77 pucuk senjata api dari berbagai jenis. Adapun untuk jumlah amunisi yang berhasil disita yakni sebanyak 6.838 butir.
“Jumlah sitaan paling banyak terjadi dalam rentang 2022 hingga 2024, saat itu bertepatan dengan upaya pembebasan pilot Susi Air yang ditawan KKB. Banyak persembunyian dan logistik mereka yang disita,” ujarnya.
Pihak TNI pun membantah telah melakukan jual beli senjata api kepada OPM. Melalui Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Hariyanto mengatakan informasi yang beredar tersebut terkait pemasokan senjata ke OPM bertujuan untuk menjatuhkan wibawa prajurit militer.
“Saya sampaikan bahwa TNI tidak pernah menjual senjata kepada siapa pun, terlebih kepada OPM yang selama ini justru berseberangan dengan TNI,” kata Hariyanto.
Sementara itu, Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengaku salah satu cara mendapatkan senjata yakni dengan membelinya dari TNI.
“Militer dan polisi Indonesia butuh uang, dan kami butuh senjata. Ini bukan hal yang baru terjadi,” kata Sebby.
Sebby menyebut, kelompoknya telah membeli peluru dan senjata api sejak 2004 yang didapatkan dari anggota TNI yang bertugas di wilayah Papua.
“Tahun 2004 itu sudah kami terima peluru-peluru dari anggota tentara aktif yang ada di semua pertahanan militer Indonesia di Jayapura, di Wamena, di Nabire, di mana-mana,” kata Sebby.
Dia meminta maaf kepada orang-orang yang mendukung penyelundupan senjata ke OPM setelah jaringannya terbongkar.
Menurut Sebby, terbongkarnya penyelundupan senjata ini terjadi akibat kesalahan dari anggota TPNPB-OPM, Yuni Enembi.
Menurut Sebby, Yuni Enumbi diduga kurang hati-hati dan membeberkan informasi kepada polisi dan militer Indonesia sehingga jaringan penyelundupan terbongkar.
“Ini kesalahan Yuni Enumbi yang tidak siap mental, maka dia ‘bernyanyi’. Akibat dari ‘bernyanyi’ itulah kita punya jaringan itu menjadi korban,” kata Sebby.


















Discussion about this post