Suaranusantara.com- Saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Karsa Nusantara 2025 yang digelar Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Wakil Ketua DPR RI, Adies Kadir, menyampaikan pentingnya generasi muda untuk memahami serta menguasai teknologi digital dan kecerdasan buatan sebagai modal utama di era Society 5.0.
Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting karena dapat membuka wawasan mahasiswa mengenai transisi menuju era digital yang lebih kompleks, di mana kecerdasan buatan menjadi bagian dari keseharian. Ia mengajak mahasiswa untuk mengoptimalkan teknologi tersebut secara bijak dalam mendukung aktivitas belajar dan pencapaian akademik.
Menurut Adies, pemanfaatan teknologi juga harus diperluas ke berbagai sektor masyarakat. Ia menyebut kelompok seperti petani, pelaku UMKM, hingga nelayan perlu dilibatkan agar inovasi teknologi mampu memberi dampak sosial yang nyata.
Baca Juga:Â Dianggap Tak Efektif, Prabowo Bubarkan Satgas Saber Pungli yang Dibentuk Jokowi
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan teknologi harus memperhatikan nilai-nilai budaya, norma sosial, serta etika agar tidak membawa dampak negatif dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kita akan terus mendorong agar pemerintah menyusun regulasi yang memastikan pemanfaatan teknologi memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat, tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya dan etika kita sebagai bangsa,” tambah Politisi Fraksi Partai Golkar ini.
Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna dan pasar teknologi dari luar. Sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia, Indonesia harus mampu tampil sebagai produsen, inovator, dan pencipta teknologi.
“Kuncinya adalah kolaborasi antara rekayasa dan sains. Kita perlu memperkuat riset dan inovasi sebagai pilar kedaulatan bangsa. Sayangnya, saat ini investasi Indonesia dalam riset masih di bawah 1 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto). Ini tantangan besar yang harus segera kita jawab bersama,” jelasnya.
Adies menyampaikan, DPR RI secara kelembagaan berkomitmen mendorong penguatan regulasi dan alokasi pendanaan riset serta inovasi melalui APBN. Selain itu, legislatif juga mendorong percepatan legislasi di bidang kecerdasan buatan dan teknologi digital.
Baca Juga:Â HP Basah Karena Hujan? Begini Cara Aman Mengatasinya Tanpa Panik
“AI kini hadir di hampir seluruh lini kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, pertanian, hingga pertahanan. Tapi di sisi lain, AI juga menghadirkan pertanyaan etis dan hukum yang masih butuh jawaban. Kita butuh riset yang mampu memetakan dampak sosial dari teknologi ini,” ungkapnya.
Untuk itu, ia menekankan perlunya integrasi etika teknologi ke dalam pendidikan dan regulasi nasional. Ia juga mendorong adanya kolaborasi lintas disiplin untuk memastikan teknologi tetap berpihak pada nilai kemanusiaan. “Kita perlu menyusun peta jalan nasional pengembangan AI Indonesia yang holistik dan inklusif,” tutupnya.

















Discussion about this post