Suaranusantara.com- Presiden RI Prabowo Subianto pada Selasa 3 Maret 2026 mengundang Presiden dan Wakil Presiden (Wapres) terdahulu ke Istana Kepresidenan, Jakarta.
Pertemuan Prabowo dengan para Presiden dan Wapres RI terdahulu adalah untuk membahas sejumlah isu, di mana salah satunya soal konflik Timur Tengah.
Pertemuan diketahui berlangsung selama kurang lebih empat (4) jam dimulai sejak pukul 19.30 WIB hingga 23.30 WIB.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono mengatakan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan Menlu Iran Abbas Aragchi menyampaikan pentingnya penyelesaian konflik di meja perundingan demi menghentikan eskalasi konflik.
“Kemudian kita juga menekankan kembali pentingnya untuk kembali ke meja perundingan,” kata Sugi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa 3 Maret 2026 malam.
Sugi mengungkap dalam komunikasinya dengan Aragchi itu, ia menyatakan sikap RI yang menyatakan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan wilayah satu negara.
Selain itu, ia juga kembali menyampaikan niat Prabowo menjadi mediator dalam konflik ini.
“Saya juga menyampaikan concern dari rekan-rekan kita yang ada di negara-negara teluk terhadap serangan yang mereka dapatkan di wilayah-wilayah mereka,” ujarnya.
Selain itu, Sugi juga menyebut Prabowo telah menjalin komunikasi langsung dengan pemimpin negara-negara di kawasan Teluk di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Negara-negara teluk merupakan negara di Kawasan Timur Tengah yang letaknya berdekatan dengan Iran, seperti Saudi Arabia, UAE, Oman, Kuwait, Qatar, dan Bahrain.
“Sudah telepon. Sudah telepon dan masih menunggu waktu MbS, belum bisa ketemu waktunya,” kata Sugiono.
Sementara itu, mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengakui peluang keberhasilan Dewan Perdamaian (Board of Peace) berpotensi menurun di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
“Tadi juga disampaikan. Diulangi lagi. Apalagi dengan perang di Iran ini, bayangan bahwa BOP dan misi yang ditujukan untuk ceasefire, gencatan senjata, kemudian bantuan kemanusiaan, rehabilitasi, dan rekonstruksi bisa jadi potensinya, potensi berhasilnya berkurang,” kata Hasan.
Ia menangkap kesan bahwa Prabowo juga mulai berpandangan bahwa keberhasilan BoP mencapai misi perdamaiannya menurun.
Hasan pun kembali menyatakan Prabowo siap mengevaluasi keanggotaan RI di BoP di tengah eskalasi konflik ini.
“Ada kesan begitu, dan dari komunikasi beliau dengan para kepala negara lain khususnya negara-negara OKI, kesan bahwa potensi BOP berhasil telah menurun dan menurunnya berapa, kita lihat saja dengan perkembangannya,” ucapnya.
Pada saat yang sama, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menyebut Indonesia tetap berada di BoP di tengah memanasnya konflik ini.
Meski begitu, Paloh menyebut Presiden Prabowo Subianto tak tertutup mengevaluasi kembali keanggotaan RI di BoP dalam kondisi ini.
“Sampai hari ini barangkali masih dalam posisi seperti itu, kecuali ada perkembangan bersama beberapa negara lain nanti, mengevaluasi ulang kembali arti keberadaan Indonesia di BoP bersama beberapa negara lainnya,” kata Paloh.
Sementara itu, Ketum PKB Cak Imin menyampaikan pembahasan dalam pertemuan tersebut menekankan pentingnya kepentingan nasional di tengah konflik ini.
Ia menyebut pertemuan itu membahas secara komprehensif langkah antisipasi dalam menghadapi situasi ini.
“Kepentingan bangsa kita adalah yang paling utama dalam semua aspek kerjasama dengan siapapun,” kata Cak Imin.


















Discussion about this post