Suaranusantara.com- Ketegangan antara Israel dan Iran dinilai membawa implikasi luas bagi stabilitas internasional. Anggota Komisi I DPR RI, Amelia Anggraini, memandang eskalasi militer tersebut sebagai ancaman serius yang berpotensi menyeret kekuatan global lain ke dalam pusaran konflik.
Dalam pernyataannya yang diterima di Jakarta, Amelia menilai situasi ini berisiko memperluas krisis dari tingkat regional menjadi persoalan geopolitik global. Ia menekankan pentingnya konsistensi Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri bebas aktif, dengan mengedepankan diplomasi dan pendekatan hukum internasional sebagai jalan keluar.
Selain aspek keamanan, ia menyoroti potensi dampak ekonomi yang tidak bisa diabaikan. Gangguan terhadap jalur distribusi energi dunia, terutama di Selat Hormuz sebagai salah satu titik vital perdagangan minyak global, berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah.
Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2025 menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen kebutuhan minyak mentah untuk kilang BBM dalam negeri masih dipenuhi melalui impor. Kondisi tersebut membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga energi internasional apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut tanpa penyelesaian diplomatik.
“Kenaikan harga energi akan berimplikasi pada beban fiskal negara, tekanan inflasi, serta meningkatnya biaya produksi dan distribusi barang di dalam negeri,” jelas Legislator Fraksi Partai NasDem itu.
Selain aspek ekonomi, ia juga menyoroti potensi dampak terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dan arus investasi akibat meningkatnya ketidakpastian global. Dari sisi keamanan, situasi yang memanas di Timur Tengah berpotensi memicu polarisasi opini publik serta dinamika sosial domestik yang perlu dikelola melalui komunikasi publik yang akurat dan terukur.
Maka dari itu, Politisi asal dapil Jawa Tengah VII ini juga mendorong pemerintah untuk segera mengamankan rantai pasok energi nasional, terutama jalur maritim Indonesia, serta memperkuat koordinasi lintas kementerian guna memastikan ketahanan energi. Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi cadangan strategis dan diversifikasi sumber pasokan energi.
Di sisi lain, Amelia meminta pemerintah menyiapkan langkah kontinjensi yang jelas untuk perlindungan warga negara Indonesia (WNI) di kawasan terdampak, termasuk respons diplomatik yang cepat apabila situasi memburuk.
Pada level internasional, ia mendorong Kementerian Luar Negeri agar mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengambil peran mediasi aktif guna mencegah konflik meluas dan mendorong tercapainya gencatan senjata.
“DK PBB memiliki mandat menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Karena itu, langkah diplomatik yang tegas dan kolektif menjadi krusial agar eskalasi tidak berkembang menjadi konflik regional yang lebih destruktif,” pungkasnya.


















Discussion about this post