Suaranusantara.com- Bantargebang tempat penampungan sampah kini mulai per 1 Agustus 2026 hanya menerima residu saja dari Jakarta. Hal ini berdasarkan Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan saat ini warga Ibu Kota Jakarta telah mulai melakukan gerakan pilah sampah. Jika sebelumnya polanya hanya angkut-buang, kini pilah-angkut-olah.
Pramono mengatakan jika sebelumnya masih banyak warga yang pesimis, kini penerapan gerakan pilah sampah ini sudah sampai ke tingkat RT/RW.
“Gerakan pilah sampah di Jakarta yang awalnya mungkin orang masih pesimis, sekarang ini sudah menjadi gerakan yang sampai dengan tingkat RT/RW,” kata Pramono, acara peluncuran perlindungan sosial bagi sektor informal persampahan Indonesia di fasilitas RDF Rorotan, Jakarta Utara, Senin 10 Agustus 2026.
Dia menyebut dirinya secara rutin meminta laporan perkembangan penanganan persampahan, termasuk gerakan pilah sampah di Jakarta.
Pramono mengatakan gerakan pilah sampah berdasarkan laporan yang diterimanya sampai awal Agustus sudah mencapai 23,14 persen.
“Dan karena ini sudah menjadi gerakan, saya yakin di mana-mana sekarang sudah bergemuruh untuk itu. Sampai dengan bulan Agustus awal, pilah sampah di Jakarta sudah 23,14%,” lanjutnya.
Pramono menjelaskan perubahan pola pengelolaan sampah juga diterapkan di TPST Bantargebang. Di mana mulai per 1 Agustus, Bantargebang hanya menerima residu saja.
“Mulai 1 Agustus kemarin, Bantargebang hanya menerima sampah residu secara bertahap,” kata Pramono.
Dia mengatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari perubahan pola pengelolaan sampah Jakarta dari sebelumnya ‘angkut buang’ menjadi ‘pilah angkut olah’.
“Kalau dulu angkut buang, ditimbun di Bantargebang, sekarang menjadi pilah angkut olah,” ujarnya.
Pramono menargetkan pada 2028 pengelolaan sampah di Jakarta dapat mencapai 100%. Dengan begitu, pembuangan sampah ke Bantargebang dapat ditekan dan diarahkan menuju konsep zero dumping.
Saat ini, peningkatan gerakan pilah sampah juga diikuti dengan penambahan fasilitas pengelolaan sampah. Saat ini terdapat 2.247 unit bank sampah di berbagai wilayah Jakarta.
“Bank sampah pun telah meningkat menjadi 2.247 unit di berbagai wilayah yang ada di Jakarta ini,” jelasnya.
Selain itu, Pemprov DKI memiliki 31 TPS 3R yang kini turut menghasilkan bahan bakar alternatif berupa Refuse Derived Fuel (RDF). Menurut Pramono, produksi RDF dari TPS 3R tersebut berkisar 100-150 ton per hari.
“Contohnya di TPS 3R di Menteng Atas. Kemarin ketika kami berkunjung ke sana, produksinya kurang lebih 100 sampai dengan 150 ton per hari,” tuturnya.


















Discussion about this post