Suaranusantara.com- Demi mengatasi lonjakan polusi udara yang terjadi di DKI Jakarta akibat dari kemarau panjang, Gubernur Pramono Anung tengah menyiapkan langkah jangka pendek berupa rekayasa cuaca hujan buatan.
Kata Pramono Anung, begitu awannya ada, maka langsung segera membuat hujan buatan.
“Kami sedang menyiapkan hujan buatan. Begitu awannya ada, kami segera membuat hujan buatan untuk Jakarta dan sekitarnya,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung usai membuka acara Jakarta Asset Forum and Expo (JAFEX) 2026 di Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026.
Pramono mengatakan, pihaknya tak hanya mengandalkan rekayasa cuaca hujan buatan, melainkan juga Pemprov DKI berfokus pada langkah struktural melalui pengurangan emisi gas buang dari sektor transportasi.
Di mana, seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemprov DKI wajib menggunakan moda transportasi umum setiap hari Rabu.
Kebijakan pembatasan kendaraan pribadi tersebut terbukti mampu meningkatkan keterisian angkutan umum secara signifikan.
Pramono mencatat kenaikan jumlah penumpang terjadi pada TransJakarta sebesar 15 persen, MRT sebesar 23 persen, dan LRT sebesar 12 persen.
Langkah percepatan transisi transportasi publik di Jakarta ini turut mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan bahwa pemerintah tengah menyusun peta jalan dekarbonisasi untuk mencapai target Net Zero Emission 2060.
“Yang paling dirasakan hari ini sederhananya adalah bagaimana mengurangi polusi. Mudah-mudahan dengan konversi ke angkutan publik, yang ini semua akan menggeser penggunaan kendaraan-kendaraan pribadi menuju kendaraan publik. Ini akan sangat signifikan mengurangi polusi dan dampak kesehatan,” jelas AHY.


















Discussion about this post