Suaranusantara.com- Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian, Airlangga Hartarto pada Senin 2 November 2026 dipanggil Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta. Airlangga menjelaskan pemanggilan tersebut guna membahas soal fundamental ekonomi RI.
Tak hanya Airlangga, sejumlah menteri kabinet juga ikut dalam rapat bersama Prabowo. Di antaranya Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Wamen ESDM Yuliot Tanjung, CEO Danantara Rosan Roeslani, dan Dirut Pertamina Simon Aloysius.
Airlangga menjelaskan bahwa fundamental ekonomi RI masih terjaga dan kuat sampai bulan November 2026 ini. Diharapkan kondisi tersebut masih berlangsung sampai akhir tahun 2026.
“Jadi ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia terjaga dan masih kuat sampai bulan ini, dan sampai akhir tahun diharapkan kondisi masih terjaga,” kata Airlangga dalam jumpa pers di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Senin 2 November 2026.
Lantas, apa itu fundamental ekonomi?
Ekonom CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menjelaskan, fundamental ekonomi pada dasarnya merupakan sekumpulan indikator makroekonomi yang digunakan untuk mengukur kesehatan dan daya tahan suatu negara.
Namun, fundamental ekonomi berbeda dengan indikator pasar seperti nilai tukar rupiah atau harga saham yang banyak dipengaruhi oleh persepsi investor.
“Jadi kalau nilai tukar atau misalnya harga saham dan lain-lain itu kan benar-benar ada persepsi pasar ya. Tapi fundamental itu semacam performance si negara itu sendiri,” ujarnya dikutip Selasa 3 November 2026.
Dia mengibaratkan fundamental ekonomi sebagai laporan keuangan sebuah perusahaan. Jika kondisi perusahaan dinilai dari laporan keuangannya, maka kondisi sebuah negara dinilai dari berbagai indikator ekonomi makro mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, neraca dagang, transaksi berjalan, hingga defisit APBN.
“Jadi kalau misalnya ada perusahaan publik, fundamental itu adalah laporan keuangan perusahaan itu. Kalau di konteks negara itu indikator makro ekonomi,” jelasnya.
Melalui indikator-indikator tersebut, ekonom dan investor dapat menilai apakah kondisi ekonomi suatu negara tergolong sehat atau tidak.
Oleh karenanya, negara harus memiliki fundamental ekonomi yang kuat untuk menarik modal asing masuk serta agar kuat menghadapi berbagai gejolak dari dalam maupun luar negeri.


















Discussion about this post