
MENJADI abdi negara di institusi kepolisian, merupakan impian sejak kecil bagi Faduhusi Atonawo Zendrato.
Begitu menyelesaikan pendidikan SMA Pemda 2 Gunungsitoli, putra bungsu dari sepuluh bersaudara ini langsung melamar sebagai calon bintara di Sekolah Polisi Negara (SPN) Sampali, Medan.
Dua kali gagal, tapi ia tidak patah arang. Kali ketiga, ia lolos. “Saya meyakininya, karena doa ibu,” kata Faduhusi Zendrato yang lulus Bintara pada 1986.
“Untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan, harus ada pengorbanan. Motto saya, yang baik pun saya lakukan, belum tentu orang lain senang, apalagi yang saya lakukan tidak baik. Jadi, saya harus berbuat baik,” kata suami Anna br Siahaan itu.
Bagi ayah 5 anak ini, mimpi harus bisa diwujudkan dengan kerja keras. Pada 1997, kakek satu cucu ini mampu menyelesaikan pendidikan Sekolah Calon Perwira (Secapa) di Sukabumi. Untuk memperkaya khasanah pengetahuan, ia menyelesaikan perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Simalungun. Kemudian pada 2013, gelar Magister Hukum diselesaikannya di Universitas Panca Budi Medan.
Jabatan yang pernah diembannya, Kasat Ops Puskodal Polres Labuhanbatu (1998), Kapolsek Aek Natas Pamienke Labuhanbatu (1998-2000), Kaurbin Ops Lantas Labuhanbatu, Binkum Poldasu (2004), Parik Ops Itwasda Poldasu, Kasatlantas Polres Pematangsiantar (2009-2010), tenaga pendidik (Gadik) SPN Sampali, 15 September 2014-4 November 2015 Wakapolres Nias, dan 4 November 2015 hingga sekarang sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Gunungsitoli dengan zona layanan Kepulauan Nias.
Faduhusi yang sering dipanggil Ama Jefri itu, terkenal ramah dan sering terlibat dalam kegiatan sosial-keagamaan. Ketika bertugas di Rantauprapat dan Aek Kanopan, dia dipercayakan sebagai Ketua Umum Panitia Pembangunan Gereja BNKP. Saat ini, ia diberi amanah sebagai Ketua Umum Panitia Pembangunan Gereja BNKP Teladan yang membutuhkan anggaran Rp 17 miliar. Ia melakoninya dengan tulus, santai dan penuh percaya diri.
Banyak yang menengarai, kalau Nias sudah diserang dengan penyakit narkoba. Menurut Faduhusi, otak peredaran narkoba sudah bica dilacak. Namun, karena keterbatasan personil—masih 7 PNS dan seorang polisi–maka ia lebih konsentrasi dengan gerakan pencegahan.
“Misi saya di BNN, menyelamatkan jiwa dan nyawa orang dari bahaya narkoba. Yang kami lakukan saat ini adalah pencegahan dan pemetaan. Memperbanyak sosialisasi di sekolah, pesantren dan gereja. Hasilnya, terbangun keberanian di tengah masyarakat untuk berani menjadi relawan,” ujar pemilik motto “mari menyenangkan hati Tuhan” itu.
Belum lama ini, timnya melakukan penyergapan terhadap beberapa yang disinyalir pemakai narkoba. Genderang perang terhadap narkoba telah ditabuh. Kita harus dukung. (Ingot Simangunsong)

















