Suaranusantara.com – Sejumlah daerah di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, sedang mengalami cuaca sangat panas.
Suhu udara pada siang hari dapat mencapai 36-38 derajat Celsius. Berdasarkan laporan dari akun Instagram resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) @infobmkg untuk periode 15-16 Oktober 2023, Majalengka, Jawa Barat, mencatatkan suhu tertinggi dengan 37,7 derajat Celsius.
Kota Palu di Sulawesi Tengah dan beberapa wilayah di Jawa Tengah juga mengalami suhu maksimum sekitar 37,4 derajat Celsius. Selain itu, Kalimantan Selatan mencapai 37,3 derajat Celsius.
Baca Juga :Â Pesan Berharga dari Ibu Mahfud MD Sebelum Pemilihan Cawapres: Lurus, Jujur, dan Berbakti
Kondisi cuaca ekstrem ini bisa menyebabkan dehidrasi, yang ditandai dengan mulut dan tenggorokan kering, rasa haus yang hebat, dan kelelahan. Dehidrasi terjadi saat tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang dikonsumsi, mengganggu fungsi tubuh yang normal.
Selain dehidrasi, paparan udara panas yang berkelanjutan juga meningkatkan risiko heatstroke, yaitu peningkatan suhu tubuh secara drastis, yang bahkan bisa mengancam jiwa.
Gejala heatstroke meliputi peningkatan suhu tubuh mencapai 40 derajat Celsius dalam waktu singkat, ketidakmampuan tubuh untuk berkeringat, kulit merah, napas cepat, detak jantung yang cepat, sakit kepala, mual, muntah, dan perubahan perilaku seperti kebingungan, gelisah, serta mudah tersinggung.
Situasi cuaca panas ini diperparah oleh polusi udara di beberapa kota besar.
Menurut data indeks kualitas udara dari laman iqair.com, Kota Palembang di Sumatra Selatan memiliki tingkat polusi tertinggi dengan skor 204 pada Selasa, 17 Oktober 2023.
Baca Juga :  Ganjar Kepada Relawan Pemenangan: ‘I Love you Full’
Kota Pekanbaru di Riau berada di peringkat kedua dengan skor 176, sementara Kota Jambi mencatat skor 166, dan Kota Bogor di Jawa Barat dengan skor indeks kualitas udara sebesar 153.
Gabungan antara cuaca panas dan polusi udara ini dapat berdampak buruk pada kesehatan manusia, termasuk peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Di beberapa wilayah, seperti Jabodetabek, kasus ISPA non-pneumonia mencapai 90.546 kasus dalam rentang waktu 29 Agustus hingga 6 September 2023, dengan sebagian besar penderita berada dalam kelompok usia produktif.
Daerah lain seperti Kabupaten Batanghari di Jambi juga mengalami peningkatan kasus ISPA sejak September hingga awal Oktober 2023, dengan alasan kualitas udara yang buruk, jalan berdebu, dan cuaca panas akibat musim kemarau.
Kota Batam di Kepulauan Riau juga mencatat sekitar 497 kasus ISPA pada 9 Oktober 2023, yang sebagian besar disebabkan oleh kabut asap yang melanda pada bulan September 2023.
Baca Juga :Â Giring Rombongan Lewati Rumah Megawati, Ini Alasan Anies Baswedan
Dalam situasi seperti ini, masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan mereka, terutama mereka yang sering beraktivitas di luar ruangan.
Untuk menghindari dehidrasi, disarankan untuk minum minimal 2 liter air putih sehari, sesuai dengan pedoman Kementerian Kesehatan. Selain itu, konsumsi minuman dengan kandungan vitamin C tinggi, seperti lemon, dapat membantu meringankan gejala dehidrasi dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.
Vitamin C juga berperan sebagai antioksidan yang melindungi sel-sel tubuh dari radikal bebas yang dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung dan kanker.
Dengan mengonsumsi minuman kaya vitamin C, selain mencegah dehidrasi, juga meningkatkan daya tahan tubuh dalam menghadapi dampak cuaca ekstrem dan polusi udara.(Dn)


















Discussion about this post