Jateng, Suaranusantara.com – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tengah mengusut kasus Guru SMA Negeri 1 Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Suwarno (54) yang memarahi siswi kelas X, S (15) gegara tak berjilbab. Ganjar pastikan pihaknya mengawasi kasus tersebut.
“Udah, udah. Kita urus semua,” kata Ganjar kepada wartawan di sela-sela event Borobudur Marathon 2022 kategori Bank Jateng Tilik Candi, Minggu (13/11).
Ganjar menyebut pihaknya sudah meminta Suwarno untuk menandatangani surat pernyataan. Ganjar mengaku bakal memecat guru tersebut jika mengulangi perbuatannya.
“Gurunya kita minta untuk tanda tangan pernyataan tidak akan mengulang, kalau mengulang tak pecat,” tegas Ganjar.
Diberitakan sebelumnya, S menjadi korban perundungan gurunya gegara tak berjilbab. Peristiwa itu terjadi saat S mengikuti mata pelajaran di kelas pada Kamis (3/11) pekan lalu.
“Anak saya di sana kebetulan tidak berkerudung. Ada (oknum) guru yang memarahi dia, dan cenderung ke arah bullying,” kata wali murid tersebut, Agung Purnomo (47), saat dihubungi, Rabu (9/11).
Agung menyebut tindakan guru itu keterlaluan karena sudah memarahi anaknya di depan kelas. Selain itu, ada narasi dari teguran guru yang menurutnya subjektif.
“Nasihatnya kamu harus tobat. Ini subjektivitasnya sudah parah,” ucap Agung.
Oleh karea itu, pihaknya mengadu ke Polres Sragen untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut.
“Karena sekarang polisi bukan hanya penegak hukum, tapi juga sahabat masyarakat. Yang mungkin dari mereka bisa memberikan jalan atau solusi, agar masalah ini bisa diselesaikan,” ucapnya.
Sementara itu, guru SMAN 1 Sumberlawang Suwarno sudah meminta maaf soal peristiwa ini. Suwarno mengaku hanya berniat memberi nasihat kepada siswi tersebut.
“Karena ada satu anak yang belum memakai jilbab itu tadi. Tapi sebelumnya saya tidak pernah menyampaikan itu. Tapi karena ada anak yang malu ke masjid tidak jilbaban itu, saya menyampaikan secara spontanitas,” ujar Suwarno.
“Saya menyampaikan dengan kata-kata yang biasa, tidak ada niat memojokkan, atau dengan kata-kata yang keras, bentak-bentak gitu, tidak,” ucapnya.
Kendati demikian, sekolah negeri tidak memiliki aturan tertulis yang mewajibkan siswinya yang beragama islam memakai jilbab. Suwarno juga menyadari hal tersebut.
Usai kejadian itu, dia mengatakan sudah merenungkan dan tidak akan mengulangi lagi, karena dampaknya tidak baik untuk anak. Dia berjanji ke depannya akan lebih berhati-hati, dan memberikan pelayanan yang santun kepada siswanya agar mereka nyaman.(Rnd)


















Discussion about this post