Suaranusantara.com- Pagi yang biasanya menjadi awal perdagangan penuh harapan di lantai bursa, Selasa (8/4/2025), mendadak berubah mencekam. Bursa Efek Indonesia (BEI) diguncang oleh aksi jual besar-besaran yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok lebih dari 9 persen hanya dalam hitungan menit sejak bel pembukaan dibunyikan.
Pasar modal Indonesia kembali bergejolak hebat di awal pekan ini. Selasa pagi (8 April 2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung mengalami penurunan drastis hingga 9,19% ke posisi 5.914,29. Koreksi tajam ini langsung memicu alarm di lantai perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), yang segera mengambil langkah-langkah pengamanan untuk menahan tekanan jual yang semakin liar.
Saham-saham unggulan dari sektor perbankan menjadi korban utama aksi jual massal. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mencatat penurunan paling signifikan hingga 14,57%, disusul oleh Bank Mandiri (BMRI) yang melemah 13,46%, dan Bank Central Asia (BBCA) yang merosot 12,94%. Situasi ini menyebabkan 552 saham terjun bebas ke zona merah, sementara hanya 9 saham yang berhasil menguat dan 65 lainnya stagnan.
Guna menstabilkan kondisi pasar yang sedang dalam tekanan ekstrem, BEI menerapkan kebijakan penghentian sementara perdagangan atau trading halt sesuai dengan aturan yang berlaku. Jika IHSG anjlok lebih dari 8% dalam satu hari perdagangan, maka akan dilakukan penghentian selama 30 menit. Jika koreksi berlanjut hingga lebih dari 15%, penghentian akan kembali diberlakukan. Dalam situasi lebih buruk, yakni penurunan lebih dari 20%, bursa dapat menghentikan perdagangan hingga akhir sesi atau bahkan lebih dari satu sesi, setelah mendapat arahan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Penyesuaian terhadap batas bawah auto rejection juga diberlakukan untuk menahan volatilitas berlebihan. Saham-saham yang tercatat di Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Ekonomi Baru kini memiliki batas auto rejection bawah sebesar 15%. Kebijakan ini juga diterapkan pada ETF (Exchange-Traded Fund) dan DIRE (Dana Investasi Real Estat) untuk semua rentang harga saham.
Langkah-langkah mitigasi ini dirancang BEI berdasarkan praktik terbaik dari bursa internasional dan masukan dari para pelaku pasar. Tujuannya adalah menciptakan ruang yang cukup bagi investor untuk melakukan penyesuaian strategi, sambil memastikan stabilitas dan perlindungan dalam iklim perdagangan yang penuh ketidakpastian.


















Discussion about this post