Suaranusantara.com- Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, rupiah kembali goyah. Selasa pagi, nilai tukarnya terhadap dolar AS tergelincir tipis, seiring fokus pasar yang tertuju pada rilis data inflasi Amerika.
Perkembangan ini dianggap krusial, karena hasilnya dapat mengubah peta ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Mengacu pada data Bloomberg pukul 09.06 WIB, mata uang Garuda terkoreksi 18 poin atau sekitar 0,11 persen menjadi Rp16.297,5 per dolar AS di pasar spot. Sementara itu, indeks dolar AS justru sedikit melemah 0,03 persen ke posisi 98,49. Kondisi ini berbanding terbalik dengan perdagangan sehari sebelumnya (11/8/2025), di mana rupiah sempat menguat 13 poin atau 0,08 persen ke level Rp16.279,5 per dolar AS.
Menurut laporan Reuters, dolar AS bergerak stabil di awal perdagangan hari ini. Investor menanti data inflasi konsumen (CPI) Juli yang diyakini menjadi indikator penting dalam mempengaruhi arah suku bunga The Fed. Sebelumnya, nilai dolar sempat tertekan setelah Presiden AS Donald Trump menunjuk calon gubernur The Fed yang dinilai cenderung dovish, memicu spekulasi pemangkasan suku bunga.
Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter semakin menguat akibat kekhawatiran pejabat The Fed terhadap kondisi pasar tenaga kerja. Saat ini, peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 17 September diperkirakan mencapai 89 persen. Meski demikian, jika data inflasi menunjukkan lonjakan yang dipicu tarif impor AS terhadap China, The Fed bisa saja menunda langkah tersebut.
TD Securities menilai peluang dolar untuk menguat relatif terbatas, meskipun tetap ada risiko kenaikan jika inflasi melampaui prediksi. Sebaliknya, apabila angka inflasi berada di bawah perkiraan, dampaknya pada dolar kemungkinan minim. Pemangkasan suku bunga besar hingga 50 basis poin disebut baru mungkin terjadi jika pelemahan pasar tenaga kerja semakin parah.
Berdasarkan survei Reuters, inflasi inti AS pada Juli diperkirakan tumbuh 0,3 persen secara bulanan, sehingga laju inflasi tahunan akan meningkat menjadi 3 persen.


















Discussion about this post