Jakarta-SuaraNusantara
Andi Mappetahang Fatwa atau lebih dikenal sebagai AM Fatwa, meninggal pada usia 78 tahun di Rumah Sakit MMC Jakarta, Kamis (14/12/2017) pagi tadi pukul 06.25 WIB.
Almarhum yang kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 12 Februari 1939 ini diketahui mengidap penyakit kanker hati stadium 4.
Keponakan almarhum, Andi Agung Baso Amir mengatakan, kondisi kesehatan pamannya memang memburuk belakangan ini hingga keluar masuk rumah sakit. Tekanan darahnya pun dalam kondisi tidak stabil.
Namun baru pada bulan September lalu, ketika AM Fatwa baru kembali dari Filipina untuk acara DPD, dia didiagnosa menderita kanker hati stadium 4.
“Terakhir kali dua minggu lalu (bertemu almarhum). Pernah saya datang ke rumah, ternyata dari Filipina langsung masuk RS MMC,” ujar Andi di rumah duka, Jalan Palem Nomor 11, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (14/12/2017).
Menurut Andi, pamannya tak pernah mengeluhkan penyakit yang diderita padahal kankernya sudah stadium 4. “Kelebihan beliau tidak pernah merasa sakit, jadi kita enggak ngerti beliau sakit, malah kita sebagai keluarga kaget, tiba sakit Lever stadium 4,” ujar Andi.
AM Fatwa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, Kamis sore ini.
Waspada Kanker Hati di Negara Berkembang
Kanker hati sesuai namanya adalah kanker yang bermula dari organ hati atau liver. Ada dua klasifikasi kanker hati berdasarkan lokasi pertumbuhan atau penyebarannya (metastasis), yaitu kanker hati primer dan sekunder. Kanker hati primer adalah kanker yang berawal di organ hati dan termasuk jenis kanker yang berpotensi fatal. Kanker hati sekunder bermula dari bagian tubuh lain kemudian menyebar dan tumbuh di organ hati.
Salah satu jenis kanker hati yang paling umum adalah hepatocellular carcinoma (HCC)/hepatoma yang merupakan kanker hati primer yang berkembang dari sel hati utama yang bernama hepatosit. HCC terjadi sekitar 75% dari keseluruhan kanker hati primer. Kanker ini dapat merupakan komplikasi dari penyakit hepatitis (peradangan pada organ hati) dan kondisi sirosis (jaringan hati normal digantikan oleh jaringan parut).
Penyakit ini paling sering terjadi di negara-negara miskin dan berkembang. Di Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar 18.000 kasus baru kanker hati setiap tahunnya, berdasarkan data pada tahun 2012. Angka ini diperkirakan akan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penderita hepatitis B dan C yang saat ini mencapai 30 juta jiwa.
Penyebab pasti kanker hati masih belum diketahui, tetapi penyakit ini diperkirakan berkaitan dengan kerusakan jaringan sel-sel hati, seperti penyakit hati sirosis atau pengerasan hati. Penyakit sirosis dapat disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B atau hepatitis C.
Penderita hepatitis B atau C mengalami peradangan hati yang berisiko memicu kerusakan serta timbulnya jaringan parut di organ hati. Kondisi ini kemudian dapat berkembang menjadi kanker hati.
Kebiasaan merokok, minum kopi berlebihan, minuman keras dapat memicu timbulnya kanker hati. Selain itu, obesitas dipercaya juga dapat meningkatkan risiko kanker hati karena berkaitan erat dengan penyakit perlemakan hati non alkoholik.
Dikutip dari alodokter.com, diketahui faktanya hanya 1 dari 5 penderita kanker hati yang dapat bertahan hidup setahun setelah didiagnosis mengidap kanker hati. Dan hanya 1 dari 20 pengidap yang dapat bertahan hidup setidaknya lima tahun. Hal ini dikarenakan sebanyak 9 dari 10 penderita baru didiagnosis ketika kanker sudah ada pada stadium lanjut. Pada kebanyakan pengidap, kanker telah berkembang terlalu parah untuk disembuhkan.
Maka agar kanker hati dapat terdiagnosis lebih dini, orang-orang yang berisiko tinggi mengidap penyakit tersebut disarankan untuk memeriksakan diri secara rutin dan teratur. Kelompok orang yang berisiko tinggi ini adalah mereka yang positif terinfeksi hepatitis B dan C serta yang pernah mengidap sirosis. Manfaat dari pemeriksaan rutin adalah untuk mendiagnosis kanker hati pada stadium awal, yaitu saat pengobatan untuk kepulihan total lebih memungkinkan.
Risiko kanker hati dapat dikurangi dengan menghindari risiko terinfeksi hepatitis B dan C dengan mendapatkan vaksinasi dan melakukan hubungan seksual secara aman. Tidak kalah penting, terapkan gaya hidup sehat seperti mengatur pola makan dan olahraga teratur agar tubuh terhindar dari obesitas.
Selain itu, hindari konsumsi minuman keras berlebihan dan rokok. Jika Anda ingin menindik atau menato tubuh, pastikan untuk melakukannya di tempat yang memiliki tingkat kesterilan yang terjamin.
Umumnya pengidap kanker hati stadium awal tidak merasakan gejala yang berarti. Gejala baru akan terlihat jelas pada stadium lanjut. Meski demikian beberapa gejala berikut ini dapat diwaspadai sebagai gejala kanker hati:
- Merasa sangat lelah dan lemas
- Sakit perut
- Gatal-gatal
- Organ hati membengkak
- Merasa mual dan muntah
- Ascites atau penumpukan cairan di dalam perut. Perut terlihat membengkak.
- Tungkai membengkak karena penumpukan cairan.
- Turunnya berat badan tanpa sebab
- Kulit dan bagian putih mata yang menguning
- Urine berwarna gelap
- Tinja berwarna putih seperti kapur
Gejala-gejala di atas memang bersifat umum dan tidak selalu menjadi penanda kanker hati, tapi tetap lebih baik untuk melakukan pemeriksaan. Cobalah berkonsultasi kepada dokter jika Anda mengalami satu atau beberapa gejala di atas termasuk orang yang pernah mengidap sirosis atau terinfeksi hepatitis.
Penulis: Cipto

















