Suaranusantara.com- PDI Perjuangan sebentar lagi akan menggelar Kongres VI partai. Dan kabarnya dalam kongres itu akan menjadi titik temu antara Ketum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri dan Presiden RI Prabowo Subianto.
Hal ini dikarenakan, PDI Perjuangan berencana akan mengundang Prabowo untuk hadir dalam Kongres VI partai.
“Rencananya Kongres (PDI Perjuangan) akan mengundang Presiden Prabowo Subianto,” ungkap Guntur Romli sekali Juru Bicara (Jubir) PDIP pada Jumat, 5 April 2025.
Walau demikian, kata Guntur saat ini jadwal Kongres VI PDI Perjuangan masih dibahas di internal partai. Nantinya untuk penetapan tanggal dan agenda baru akan diputuskan melalui rapat pleno Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan.
“Penetapan jadwal kongres diputuskan dalam rapat pleno Dewan Pimpinan Pusat PDIP,” ujarnya.
Kata Guntur, terkait fokus utama dalam Kongres VI PDI Perjuangan nantinya akan membahas soal penetapan kembali atau penunjukan ketua umum (ketum) partai.
Guntur menegaskan dalam Kongres VI bukan membahas pergantian struktur Sekretaris Jenderal (Sekjen).
“Selanjutnya ketua umum menentukan struktur pengurus Dewan Pimpinan Pusat,” tegasnya.
Lebih lanjut, kata Guntur dalam konteks politik nasional, pertemuan Megawati dan Prabowo di Kongres mendatang diyakini bisa menjadi panggung strategis untuk memperkuat komunikasi lintas partai.
Terlebih, selama ini hubungan keduanya dikenal dinamis dan penuh sejarah, mulai dari rivalitas politik hingga sinyal-sinyal kehangatan yang muncul belakangan.
Salah satu sinyal tersebut terlihat pada momen Lebaran lalu, saat Prabowo mengutus putranya, Didit Prabowo, untuk bersilaturahmi ke kediaman Megawati saat momen Lebaran Idulfitri 1446 H.
Memang Prabowo tidak hadir secara langsung pada saat momen tersebut, namun dengan adanya Didit di kediaman Megawati maka ini menunjukan gestur sebagai bentuk penghormatan dan langkah awal dalam membangun komunikasi yang lebih terbuka.
Ketua DPP PDI Perjuangan, Ahmad Basarah, bahkan tidak menutup kemungkinan adanya kerja sama antara partainya dengan pemerintahan Prabowo ke depan.
“Bagaimana nanti format kerja sama politik antara PDI-P dengan Pemerintahan Prabowo, nanti akan ditentukan langsung oleh Ibu Mega,” ungkap Basarah.
Langkah ini menunjukkan bahwa PDI Perjuangan membuka ruang dialog dan adaptasi terhadap arah politik nasional pasca kemenangan Prabowo-Gibran.
Kongres VI pun bisa menjadi panggung awal untuk memformulasikan sikap resmi PDI Perjuangan terhadap pemerintah yang akan datang.
Apabila pertemuan antara Megawati dan Prabowo benar-benar terjadi, maka hal ini tidak hanya akan menjadi sorotan publik, tapi juga berpotensi mengubah lanskap politik nasional.
Pertemuan tersebut bisa menjadi simbol konsolidasi kekuatan nasional dan peneguhan komitmen terhadap stabilitas politik serta keberlanjutan pembangunan bangsa.
Dengan narasi yang semakin terbuka, publik kini menanti apakah Kongres VI PDI Perjuangan akan menjadi ajang penting bagi dua tokoh besar bangsa untuk saling menjabat tangan dan membuka lembaran baru dalam sejarah politik Indonesia


















Discussion about this post