Suaranusantara.com- Kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mendapat sorotan. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, menegaskan bahwa akar masalah bukan terletak pada Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG), melainkan kelemahan sistem yang selama ini berjalan.
Dalam pertemuan dengan sejumlah lembaga masyarakat sipil di Gedung DPR, Senayan, Senin (22/9/2025), Charles menyampaikan kekhawatirannya bahwa tanpa pembenahan, keracunan akan terus terjadi.
“Ketika hal ini (keracunan MBG) terjadi di banyak titik, maka kesalahan kemungkinan bukan ada di SPPG tetapi masalah di sistem. Oleh karena itu, saya sebenarnya ingin sekali bapak-bapak, ibu-ibu yang hadir di sini bisa memberikan kepada kita rekomendasi apa sih yang harus dibenahi, apa yang harus dilakukan apabila memang program ini akan terus dijalankan,” ujar Charles Honoris
Ia menilai hal ini berpotensi menimbulkan ketakutan di kalangan orang tua sehingga anak-anak dilarang mengonsumsi makanan dari MBG. Akibatnya, program dengan alokasi anggaran triliunan rupiah itu bisa berakhir sia-sia.
Charles menekankan perlunya fokus pada daerah 3T yang masih rawan gizi buruk. Ia menilai, penyediaan dapur di perkotaan hanya karena infrastruktur lebih siap justru melenceng dari tujuan awal program.
Politisi PDI Perjuangan itu kemudian meminta para pemangku kepentingan memberikan rekomendasi jelas tentang apa yang harus diperbaiki. Menurutnya, program MBG harus tetap berjalan, tetapi dengan sistem yang diperkuat agar benar-benar menyentuh sasaran dan mampu menekan masalah gizi buruk di Indonesia.
“Tujuannya kan apa? Tujuannya kan adalah mengentaskan gizi buruk. Dari awal kita sudah sampaikan ke BGN, harus fokus ke 3T. Jangan mau cari gampangnya, mentang-mentang infrastruktur di kota lebih siap, lebih mudah, ya sudah bikin dapur di situ saja. Hanya ngejar angka,” kata Charles.
“Dengan tetap berjalannya program ini, apa yang harus dilakukan? Apa yang harus dirubah? Apakah kita tidak lagi menggunakan sistem SPPG? Kita berikan ke sekolah atau apa? Tapi program ini, faktanya program ini tetap ada,” tutupnya


















Discussion about this post