
Jakarta-SuaraNusantara
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengajak para pengurus dan kader PDI Perjuangan di Banyuwangi, Jawa Timur, untuk mengirimkan doa kepada etnis Rohingya di Myanmar.
Lewat aplikasi Facetime, Anas juga mengajak kader PDIP untuk mendoakan arwah para korban yang tewas dalam kerusuhan di Myanmar tersebut.
“Mari kita kirim doa dan shalat ghaib agar para korban diterima Allah SWT, dan tindakan kekerasan ini segera berhenti. Saya ingin menekankan bahwa apa yang terjadi di sana bukan soal agama karena tak ada agama yang mengajarkan kekerasan,” kata Anas.
Anas mendukung langkah Presiden Jokowi yang mengutus Menteri Luar Negeri Retno Marsudi ke Myanmar untuk bertemu Aung San Suu Kyi dan para petinggi militer agar menghentikan aksi kekerasan terhadap warga Rohingya.
“Bantuan kemanusiaan juga sudah dan akan disalurkan pemerintah pusat. Warga yang punya rezeki lebih, bisa donasi ke lembaga-lembaga kredibel yang telah membuka penggalangan dana,” kata Anas.
Pembantaian terhadap etnis Rohingya memuncak dalam beberapa pekan terakhir. Ribuan warga Rohingya terpaksa mengungsi ke beberapa negara, terutama ke negeri leluhur mereka di Bangladesh.
Namun bagai pepatah ‘sudah jatuh tertimpa negara’, banyak negara termasuk Bangladesh menolak kedatangan mereka. Sebab, etnis ini sejak lama dikenal sering melakukan tindak kejahatan sadis.
Di Myanmar sendiri, etnis Rohingya mulai berdatangan sejak tahun 1600-an, dan sejak saat itu, berbagai tindak kriminalitas sering mereka lakukan terhadap warga pribumi Myanmar. Hal tersebut lambat laun menimbulkan kebencian di hati warga Myanmar.
Kebencian warga Myanmar semakin bertambah manakala pada tahun 1940-an, sebagian aktivis etnis Rohingya ingin merdeka, memiliki negara sendiri. Tak tanggung-tanggung, mereka meminta bantuan Pakistan, namun ditolak. Bisa dibayangkan, warga Rohingya merupakan pendatang di Myanmar, namun mereka ingin mendirikan negara di sana.
Ibarat pepatah ‘karena nila setitik, rusak susu sebelanga’, begitulah akhirnya nasib orang-orang Rohingya di Myanmar. Tentu tidak semua dari mereka berprofesi sebagai penjahat, apalagi berpikir terlalu jauh untuk memiliki negara sendiri. Namun gara-gara ulah segelintir orang Rohingya, akhirnya seluruh warga etnis ini ikut kena getahnya, termasuk anak-anak yang tak berdosa.
Terakhir, beberapa pekan lalu, sekelompok orang Rohingya menyerang pos-pos polisi dan perkampungan yang ditinggali warga pribumi. Puluhan orang tewas dalam aksi penyerangan tersebut. Kemarahan warga pribumi kembali tersulut, dan hasilnya pembantaian terhadap etnis Rohingya kembali berlanjut.
Dunia pun tersentak melihat pembantaian ini, termasuk Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya, seperti biasa, langsung mengkaitkan konflik ini dengan masalah agama.
Penulis: Yon K

















