Suaranusantara.com- Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk melakukan investigasi terkait tenaga kesehatan (nakes) yang diduga menghina pasien BPJS.
Hinaan itu beredar di media sosial, di mana seorang pasien BPJS menunggu lama sekitar delapan jam untuk mendapar kamar rawat inap.
Adapun pasien BPJS itu bernama Yurizal Tri Chaerawan. Yurizal dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026.
Yahya mendesak Kemenkes untuk investigasi berkaitan dengan kasus tersebut. Padahal seharusnya sebagai nakes memiliki empati dan memberikan pelayanan terbaik untuk seluruh pasien termasuk pasien BPJS.
Kata Yahya, terkait pasien menunggu lama, ini menunjukan betapa buruknya kualitas pelayanan rumah sakit.
“Pertama, saya menyatakan ikut berdukacita atas meninggalnya pasien tersebut. Kedua, para nakes dan tenaga medis harus memberikan layanan terbaik kepada setiap pasien, termasuk pasien BPJS Kesehatan. Ketiga, lamanya pasien menunggu perawatan menunjukkan buruknya pelayanan rumah sakit tersebut terhadap pasien yang memerlukan pelayanan secara cepat,” kata Yahya kepada wartawan, Rabu 5 Agustus 2026.
Yahya meminta Kemenkes memberi teguran keras terhadap tenaga kesehatan yang tak berempati dalam unggahan pasien tersebut.
“Keempat, Kemenkes harus memberikan teguran keras kepada tenaga kesehatan dan tenaga medis yang tidak berempati kepada pasien apalagi terhadap pasien BPJS Kesehatan,” ujar Yahya.
Yahya juga mengatakan berdasarkan pengamatan di lapangan, pasien BPJS sering kali mendapat pelayanan buruk.
“Kelima, masih sering dijumpai di lapangan pasien BPJS Kesehatan selalu dinomorduakan oleh pihak RS. Banyak rumah sakit yang kurang memberikan perhatian terhadap pasien BPJS Kesehatan. Saya banyak mendapatkan pengaduan masyarakat soal tersebut,” tambahnya.
Yahya pun meminta Kemenkes melakukan investasi terkait rumah sakit yang dimaksud oleh pasien BPJS tersebut. Legislator Golkar ini juga ingin tenaga medis diberi edukasi untuk memberikan pelayanan terbaik ke masyarakat.
“Keenam, Kemenkes harus melakukan investigasi secara terbuka rumah sakit mana yang tidak memberikan pelayan dengan baik tersebut. Sehingga mengakibatkan pasien meninggal karena tidak mendapatkan pelayanan yang baik,” kata Yahya.
“Ketujuh, Kemenkes harus memberikan edukasi kepada para tenaga kesehatan dan tenaga medis untuk memberikan pelayanan yg terbaik kepada setiap pasien serta berempati terhadap penderitaan yang dialami oleh setiap pasien di rumah sakit,” sambungnya.
Ia mengingatkan soal etika tenaga kesehatan dalam memberikan komentar kepada setiap pihak. Ia menyebut nakes merupakan profesi terhormat yang mesti dijaga marwahnya.
“Edukasi terkait etika menjadi sangat penting agar tenaga kesehatan dan tenaga medis tidak menyampaikan perkataan yang menyakiti pasien dan masyarakat pada umumnya. Profesi tenaga kesehatan dan tenaga medis merupakan profesi yang terhormat. Jadi mereka juga harus punya rasa hormat terhadap setiap pasien di rumah sakit,” ungkap dia.
Kasus ini bermula setelah Yurizal mengeluhkan soal belum mendapatkan kamar rawat dan menunggu selama delapan jam.
Curhatan itu dituangkan dalam akun Threads @yurizaltrich, Yurizal dalam unggahannya, ia tidak menyebutkan nama rumah sakit tempat dirinya dirawat.
“8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs,” tulis Yurizal.
Alih-alih mendapat simpati, unggahan tersebut justru dibanjiri komentar bernada menghina. Sebagian akun bahkan menyarankan Yurizal pindah ke ruang jenazah agar lebih cepat mendapat kamar.
Ada pula komentar yang menyinggung penyakit serius dan menyakiti diri dengan nada bercanda.
Sejumlah akun yang menuliskan komentar tersebut diduga berprofesi sebagai dokter, perawat, maupun tenaga kesehatan lain berdasarkan informasi yang tercantum di profil media sosial mereka.
Perbincangan meluas setelah Yurizal dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Kabar duka itu disampaikan oleh sepupunya melalui media sosial dan membuat unggahan lama Yurizal kembali viral.


















Discussion about this post