Suaranusantara.com- Perdagangan di lantai bursa dibuka dengan awan kelabu. Tak hanya indeks saham yang lesu, rupiah pun harus menerima tekanan dari menguatnya dolar AS. Kombinasi kebijakan The Fed dan tensi di Timur Tengah membuat pelaku pasar semakin defensif.
Tepat pukul 09.02 WIB, IHSG tercatat melemah ke posisi 7.098,75 atau turun sekitar 0,13 persen dari penutupan sebelumnya di angka 7.107,78. Meski demikian, masih ada 175 saham yang mencatatkan kenaikan, di tengah 172 saham yang tertekan dan 236 lainnya stagnan.
Dengan nilai transaksi mencapai Rp 521 miliar dan volume perdagangan yang menyentuh lebih dari 738 juta lembar saham, investor terlihat mulai berhati-hati dalam mengambil posisi. Faktor utama yang memengaruhi gerak pasar adalah kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), tetap mempertahankan suku bunga di rentang 4,25-4,50 persen.
Baca Juga:Â Gagal Distribusi Makanan di Mina, BPKH Limited Bayar Kompensasi Rp3,7 M ke Jemaah Haji Indonesia
Ketua The Fed, Jerome Powell, menyampaikan bahwa pihaknya memilih untuk menunggu kejelasan arah ekonomi sebelum mengambil langkah selanjutnya. Ia juga menyoroti risiko perlambatan ekonomi yang bisa diiringi dengan inflasi tinggi dan meningkatnya angka pengangguran. Di sisi lain, kebijakan tarif dari mantan Presiden AS Donald Trump menjadi pertimbangan tambahan yang turut memengaruhi proyeksi ekonomi AS.
Dari sisi teknikal, analis Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut IHSG kemungkinan mengalami tekanan lanjutan namun terbatas, dengan level support dan resistance di rentang 7.040–7.240. Sementara itu, analis dari Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova, menilai bahwa IHSG kini berada di atas titik penting 7.083. Jika level ini ditembus ke bawah, potensi penurunan bisa menjangkau 6.994 yang menjadi support berikutnya.
Secara umum, indikator teknikal seperti MACD juga menunjukkan sinyal pelemahan atau momentum bearish. Pasar Asia sendiri mayoritas dibuka dalam kondisi merah. Bursa seperti Shanghai Composite dan Hang Seng terpantau melemah, sedangkan Nikkei Jepang justru mencatat kenaikan signifikan.
Selain IHSG, tekanan juga melanda nilai tukar rupiah. Data Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah terkoreksi ke posisi Rp 16.368 per dolar AS atau melemah 55 poin dari penutupan sebelumnya. Penurunan ini salah satunya dipicu oleh pernyataan terbaru dari The Fed yang dinilai tidak cukup meyakinkan pasar akan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Baca Juga:Â Tantangan Industri Pupuk: Komisi VI DPR Tegaskan Isu Gas Jadi Fokus Utama
Ariston Tjendra, analis pasar uang dari PT Doo Financial Futures, menjelaskan bahwa pernyataan The Fed masih belum cukup dovish dan pasar harus menghadapi kenyataan bahwa pemangkasan suku bunga akan dilakukan secara sangat hati-hati. Situasi geopolitik, terutama keterlibatan AS dalam konflik dengan Iran, menambah kekhawatiran pasar global.
Lebih lanjut, harga minyak dunia yang meningkat hingga 17 persen turut memperkuat posisi dolar AS, sehingga rupiah dan mata uang lainnya pun ikut tertekan. Dalam kondisi ini, pelemahan rupiah diperkirakan bisa mencapai kisaran Rp 16.380, dengan titik support di sekitar Rp 16.300 untuk hari ini.


















Discussion about this post