Suaranusantara.com- Publik saat ini tengah dihebohkan dengan beredar beras oplosan di pasaran. Menariknya, beras yang beredar adalah beras premium dari merek ternama.
Alhasil, publik menjadi khawatir dalam membeli beras. Sebab, yang seharusnya mendapat kualitas dan mutu terbaik ternyata tidak sesuai yang diharapkan.
Sebelumnya, penemuan adanya beras premium yang diduga oplosan itu bermula dari Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri yang melakukan pemeriksaan ke sejumlah perusahaan produsen dan distributor beras.
Dari hasil pemeriksaan itulah, ditemukan adanya unsur pelanggaran mulai dari mutu kualitas hingga takaran yang tak sesuai.
Ataa penemuan itu, polisi hingga kini masih terus melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.
“Betul, masih dalam proses pemeriksaan,” ujar Dirtipideksus Bareskrim Polri Brigjen Helfi Assegaf dilansir Minggu 13 Juli 2025.
Adapun beras-beras premium yang dioplos beredar luas di pasaran dengan merek-merek ternama. Rata-rata merupakan produk dari Wilmar Group seperti Sania, Sovia, Fortune, dan Siip.
Selain merek-merek di atas, beras premium yang juga diduga dioplos antara lain Setra Ramos, Beras Pulen Wangi, Food Station, Ramos Premium, Setra Pulen, dan Setra Ramos buatan Food Station Tjipinang Jaya.
Selanjutnya, Raja Platinum dan Raja Ultima produksi PT Belitang Panen Raya, serta beras merek Ayana produksi PT Sentosa Utama Lestari (Japfa Group).
Lantas, bagaimana cara mengenali beras oplosan mengingat masyarakat tengah dirundung kekhawatiran?
Menurut pakar Teknologi Industri Pertanian IPB University, Prof Tajuddin Bantacut mengungkap ciri-ciri beras oplosan yang bisa dikenali secara kasat mata.
Tajuddin menjelaskan, beras oplosan dapat terlihat dari warna yang tidak seragam, butiran yang berbeda ukuran, dan tekstur nasi yang lembek setelah dimasak.
“Jika menemukan nasi yang berbeda dari biasanya seperti warna, bau (aroma), tekstur dan butiran maka dapat ‘dicurigai’ sebagai beras yang telah dioplos dalam arti terdapat kerusakan mutu atau keberadaan benda asing,” jelasnya dalam siaran pers IPB, Minggu, 13 Juli 2025.
Dalam beberapa kasus, beras oplosan juga dicampur dengan bahan tambahan benda asing termasuk zat pewarna atau pengawet berbahaya yang dapat membahayakan kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Ia mengimbau agar masyarakat mewaspadai beras yang terlihat tidak biasa, berwarna aneh, atau berbau.
“Hindari membeli beras tanpa label atau dari sumber yang tidak jelas. Cuci beras sebelum dimasak dan waspadai bila ada benda asing yang mengambang,” ucapnya.
Perihal daya simpan, ia menjelaskan bahwa idealnya beras hanya disimpan maksimal enam bulan agar kualitasnya tetap terjaga. Sebab, beras juga bisa mengalami kerusakan secara alami, terutama jika disimpan terlalu lama.
Menurutnya, meski beras sudah disimpan di tempat yang terkendali, kualitasnya tetap bisa menurun akibat faktor lingkungan, hama, atau mikroorganisme.
“Beras yang rusak bisa dipoles ulang. Namun, jika kerusakannya sudah parah, baik secara fisik, kimiawi, maupun mikrobiologis, maka tidak layak untuk dikonsumsi.Terlebih apabila mengandung bahan kimia atau pengawet, bisa berbahaya untuk kesehatan, “ jelasnya.
Ia menambahkan, terdapat tiga jenis beras yang dikaitkan oplosan yang beredar di masyarakat.
Pertama, beras campuran yang dicampur dengan bahan lain seperti jagung. Jenis ini secara umum ditemukan di beberapa daerah.
Kedua, beras “blended” atau campuran beberapa jenis beras untuk memperbaiki rasa dan tekstur.
Ketiga, beras yang dicampur dengan bahan tidak lazim atau sudah rusak, kemudian dikilapkan atau dipoles ulang agar tampak bagus kembali, padahal mutunya sudah menurun.
Tajuddin mengajak masyarakat agar lebih cermat saat membeli beras dan waspada terhadap penipuan kualitas. Selain itu, perlu edukasi yang lebih luas agar masyarakat memahami dampak kesehatan dari mengonsumsi beras yang sudah rusak atau tercemar.
“Jika dikelola dengan baik, sebagai negara agraris, Indonesia seharusnya tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada distribusi dan konsumsi beras secara merata dan aman,” tandasnya.


















Discussion about this post