Suaranusantara.com- Juru Bicara Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua Komisi XIII DPR Sugiat Santoso sebelumnya menyebutkan tingkat kepuasan terhadap Presiden Prabowo Subianto turun yang disebabkan oleh kinerja Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI yang menurutnya kurang.
Muhammad Qodari selaku Kepala Bakom RI menyampaikan rasa terima kasihnya atas perhatian dari Sugiat itu.
“Kami berterima kasih atas perhatian dan masukan dari DPR RI, khususnya dari Pak Sugiat Santoso,” ujar Qodari Selasa 1 September 2026.
Qodari menjelaskan, kritikan dari Sugiat itu akan menjadi penyemangat untuk seluruh tim Bakom bekerja lebih kreatif dan maksimal.
Dia pun mengakui bahwa yang menjadi pekerjaan rumah bagi Bakom adalah komunikasi yang lebih proaktif dan sistematis.
“Benar bahwa keperpihakan Presiden Prabowo pada rakyat sangat kuat, program kerja pemerintah juga sudah banyak yang berjalan, indikator-indikator fundamental ekonomi Indonesia juga baik,” kata Qodari.
Adapun kritikan itu disampaikan Sugiat yang menilai Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) masih gagal membangun persepsi publik, terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dia pun mencontohkan hasil survei yang menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo dan pemerintah berada di bawah 50 persen, padahal sejumlah indikator kuantitatif menunjukkan kinerja pemerintahan Prabowo cukup baik.
“Ini menunjukkan bahwa Badan Komunikasi Pemerintah itu belum maksimal menjelaskan kepada publik, menjelaskan kepada rakyat bahwa pemerintahan Pak Prabowo Subianto sebetulnya secara kuantitatif sudah bekerja dengan sangat baik dalam konteks ekonomi, dalam konteks yang lainnya, dan sebagainya dengan ukuran-ukuran yang sangat objektif,” kata Sugiat dalam rapat kerja dengan Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg), Senin 31 Agustus 2026
Dia pun mengaitkan kinerja Bakom RI dengan teori Noam Chomsky soal pembentukan persepsi publik dan opini masyarakat.
Menurut Sugiat, Bakom RI masih kalah dengan pihak-pihak luar dalam membangun pandangan publik terhadap pemerintahan Prabowo.
“Kalau kita belajar dari teori Chomsky itu, berarti kan ini menunjukkan bahwa Bakom Pemerintah kalah main dengan kelompok di luar sana dalam konteks membangun persepsi opini publik. Karena faktanya, di beberapa survei terbaru, approval rating pemerintahan Pak Prabowo itu di bawah 50 persen,” ungkap Sugiat.
Menurut Sugiat, Bakom RI seharusnya mampu menjelaskan capaian pemerintah kepada masyarakat secara lebih maksimal, salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama hingga triwulan kedua 2026 berada di atas 5 persen.
Sugiat mengeklaim, angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi global yang disebutnya sekitar 3 persen. Dia pun mengeklaim bahwa daya beli masyarakat masih terjaga karena masih menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kalau konsumsi masyarakat adalah penyumbang terbesar dari pertumbuhan ekonomi Indonesia, itu artinya daya beli masyarakat masih terjaga kan?” kata Sugiat. “Tapi opini publik tidak seperti itu. Opini publik seolah-olah ekonomi sedang sedang menuju krisis,” sambung dia.


















Discussion about this post