Suaranusantara.com- Komika ternama Indonesia Panji Pragiwaksono mendapat kritikan keras dari penyanyi sekaligus dokter ahli bedah plastik, Tompi lantaran menyinggung kondisi mata Wakil Presiden (Wapres) RI Gibran Rakabuming Raka yang disebut ngantukan.
Mulanya, Panji meroasting Gibran dalam acara Stand Up Comedy ‘Mens Rea’ yang tayang di Netflix pada 27 Desember 2025 lalu.
Di mana, mulanya Panji meroasting calon presiden (capres) pada Pilpres 2024 lalu.
“Ada yang memilih pemimpin berdasarkan tampang? Banyak. Ganjar ganteng ya, Anies manis ya, Prabowo gemoy ya,” kata Pandji dalam shownya yang ditayangkan Netflix pada 27 Desember 2025.
Lalu, Panji beralih meroasting Gibran dengan menyebut ngantukan.
“Atau wakil presidennya, Gibran ngantuk ya. Salah nada, maaf. Gibran, ngantuk ya?” kata Pandji yang diiringi riuh tawa dari penonton.
Alhasil Tompi pun melayangkan kritik pedas kepada Panji melalui laman media sosial pribadinya @dr_tompi.
Menurut Tompi, kondisi yang dialami Gibran bersifat bawaan dan sepatutnya tidak dijadikan bahan lelucon.
“Apa yang terlihat ‘mengantuk’ pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali bukan bahan lelucon,” tulis Tompi, seperti dikutip Selasa 6 Januari 2026.
Kata Tompi lagi, sah-sah saja memberikan kritikan terlebih di negara demokrasi. Namun, kritikan jangan sampai menyerang fisik seseorang.
Sebab, dengan menyerang kondisi fisik seseorang bukanlah menunjukan kecerdasan melainkan kemalasan berpikir.
“Merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir,” lanjut Tompi.
Menurut Tompi, menertawakan fisik seseorang bukanlah bentuk kritik cerdas.
“Menertawakan kondisi fisik seseorang, apa pun konteksnya, bukanlah bentuk kritik yang cerdas,” tulis dr. Tompi melalui unggahannya.
Lantas, apa itu ptosis kondisi mata yang dialami Wapres Gibran?
Dilansir dari Health, ptosis adalah kondisi ketika kelopak mata atas terkulai dan dapat menutupi sebagian hingga seluruh pupil mata.
Kondisi ini terjadi akibat gangguan pada otot levator, yaitu otot yang berfungsi mengangkat kelopak mata atas.
Secara medis, ptosis tidak berkaitan langsung dengan kurang tidur atau kelelahan, meski secara visual sering disalahartikan sebagai mata sayu.
Ptosis dapat dialami oleh satu mata maupun kedua mata, dengan tingkat keparahan yang berbeda pada setiap individu.
Ptosis dapat bersifat bawaan atau kongenital, yang berarti sudah ada sejak lahir akibat otot kelopak mata yang tidak berkembang sempurna.
Sementara pada orang dewasa, ptosis yang disebut ptosis involusional umumnya terjadi akibat penuaan, cedera mata, atau perubahan struktur otot kelopak mata.
Ptosis juga dapat disebabkan oleh kerusakan saraf akibat kondisi seperti sindrom Horner, diabetes yang tidak terkontrol, tekanan darah tinggi, atau penyakit autoimun seperti myasthenia gravis.
Selain itu, ptosis dapat muncul sebagai efek samping setelah operasi mata, termasuk operasi katarak atau prosedur refraktif
Dalam kasus tertentu, ptosis dapat mengganggu penglihatan karena kelopak mata menutupi jalur masuk cahaya ke mata.
Penderita ptosis juga dapat mengalami mata cepat lelah, penglihatan ganda, nyeri dahi, hingga kebiasaan mendongakkan kepala atau mengangkat alis untuk melihat lebih jelas.
Penanganan
Ptosis tidak selalu membutuhkan perawatan jika tidak mengganggu penglihatan atau aktivitas sehari-hari.
Namun, jika ptosis memengaruhi fungsi visual atau kualitas hidup, penanganan dapat berupa obat tetes mata khusus hingga tindakan operasi untuk memperbaiki otot kelopak mata.
Dokter bedah plastik okulo-fasial sekaligus juru bicara American Academy of Ophthalmology, Dr. Philip Rizzuto, menekankan pentingnya penanganan ptosis pada anak.
“Seorang anak tidak akan mengembangkan penglihatan normal jika kelopak mata menghalangi mata, karena rangsangan cahaya dan warna dibutuhkan untuk perkembangan saraf mata dan otak,” ujar Rizzuto.


















Discussion about this post