Nias Selatan-SuaraNusantara
Belum ada tanda-tanda pemerintah daerah maupun pusat akan memberikan bantuan untuk memperbaiki gedung Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Ulunoyo yang mirip kandang kambing.
Sekolah yang berlokasi di Desa Hilimaera Kecamatan Ulunoyo Kabupaten Nias Selatan Sumatera Utara ini beratapkan daun rumbia dan dinding terbuat dari anyaman bambu yang sudah robek di sana-sini. Lantainya pun masih beralaskan tanah.
Atap serta dinding yang sudah berlubang sewaktu-waktu bisa roboh bila diterpa angin kencang. Entah bagaimana nasib 118 siswa dan 14 orang guru (satu di antaranya berstatus PNS yakni kepala sekolah) bila hal itu benar-benar terjadi.
Menurut penuturan Robertus Giawa, salah seorang siswa kelas 2 Jurusan Administrasi, setiap kali mereka melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM), sering merasa terganggu saat hujan turun.
“Gak nyaman sih kalau saat belajar apalagi ketika hujan turun, (pakaian) kami basah, lantai becek karena atapnya bocor, tapi demi cita-cita ya mau gimana lagi?” tutur Robertus Giawa dengan nada lesu, kepada SuaraNusantara, beberapa saat lalu.
Sisiwa yang memiliki cita-cita sebagai pemimpin dalam sebuah organisasi ini, setiap harinya harus berjalan kaki sekitar 1 jam untuk mencapai sekolahnya.
“Dari rumah ke sekolah sekitar 2 Km. Berangkat dari rumah jam 6 sampai jam 7 dengan jalan kaki setiap harinya,” ucap Robertus.
Jarak 2 Km sebenarnya tidak terlalu jauh, namun butuh waktu perjalanan sampai 1 jam karena jalan yang harus dilalui dari rumah menuju sekolah juga sering becek hingga tidak bisa berjalan cepat. Hati Robertus makin teriris manakala tiba di sekolah dan mendapati lantai kelasnya juga becek karena hujan.
Robertus Giawa berharap Pemerintah Kabupaten Nias Selatan maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, bahkan bila perlu pemerintah pusat mau memberikan bantuan dengan membangun gedung sekolah yang layak bagi mereka.
“Harapan saya agar pemerintah dapat membangun gedung sekolah ini dengan baik agar tidak terkena hujan lagi, supaya kita bisa belajar dengan baik,” kata Robertus.
Salah seorang guru di SMK Negeri 1 Ulunoyo, Yonatan Giawa, mengungkapkan hal senada. Menurutnya, kegiatan belajar mengajar kerap terganggu oleh hujan, bahkan terkadang sampai kegiatan belajar terpaksa dihentikan.
“Selain kondisi gedungnya begini, beberapa sarana dan prasarana penunjang juga sangat kurang, misalnya persediaan buku-buku bacaan, papan tulis, dan lainnya,” ungkap Yonatan Giawa.
Sementara Plt. Kasek SMK Negeri 1 Ulunoyo Metizaro Laia menjelaskan, bangunan yang dipakai saat ini dulunya merupakan hasil swadaya masyarakat Desa Hilimaera.
“Tanahnya sudah dihibahkan ke sekolah, dan sekolah ini berdiri sejak tahun 2015 lalu, statusnya sudah negeri. Gedung yang saat ini dipakai masih swadaya masyarakat, belum ada bangunan dari pemerintah,” jelas Metizaro Laia.
Di tahun 2018 mendatang, SMK Negeri 1 Ulunoyo akan menamatkan siswa angkatan pertamanya. Entah sampai kapan generasi muda di Desa Hilimaera harus bersekolah di “kandang kambing” ini.
Penulis: Wilson Loi

















