
Medan – SuaraNusantara
Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah I
Edison Kurniawan, menjelaskan bahwa gempa tektonik yang terjadi pada Sabtu, 3 Maret 2018, pukul 09:48:25 WIB, di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara, murni disebabkan oleh aktivitas tektonik dan bukan akibat aktivitas vulkanik.
Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempabumi berkekuatan M=3,9 terjadi dengan koordinat episenter pada 1,91 LU dan 98,94 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 23 km arah Barat Daya Kabupaten Tapanuli Utara, Propinsi Sumatera Utara pada kedalaman 10 km.
Dampak gempabumi yang digambarkan oleh Peta tingkat guncangan (shakemap) BMKG menunjukkan bahwa dampak gempabumi berupa guncangan berpotensi dirasakan di daerah Tarutung dalam skala intensitas II SIG-BMKG (II-III MMI).
Gempabumi yang terjadi di Kabupaten Tapanuli Utara ini, jika dilihat dari lokasi serta kedalamannya yang dangkal, merupakan jenis gempabumi tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake) akibat aktivitas Zona Sesar Sumatera (Sumatera Fault Zone) pada segmen Toru yang dibangkitkan oleh aktivitas sesar mendatar (strike-slip fault).
“Kepada masyarakat di sekitar wilayah Kabupaten Tapanuli Utara dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenaranya,” katanya.
Penulis : ingot simangunsong

















