Suaranusantara.com- Laporan Keuangan LPDP 2024 mencatat total 8.592 penerima beasiswa, dengan 2.626 orang di antaranya berasal dari jalur afirmasi. Namun, jumlah penerima dari keluarga prasejahtera justru berkurang menjadi 952 orang. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 1.105 orang.
Situasi ini mendapat perhatian dari Anggota Komisi XI DPR RI, Puteri Komarudin. Ia menilai penurunan tersebut mengkhawatirkan karena bisa membuat anak-anak dari keluarga prasejahtera kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Puteri menekankan bahwa bagi banyak anak, beasiswa adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari kemiskinan.
“Bisa kita bayangkan, kalau ada anak-anak dari keluarga prasejahtera yang akhirnya kehilangan kesempatan emas untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Padahal, mungkin inilah satu-satunya jalan mereka untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Oleh karena itu, kami ingin menanyakan, apa yang menjadi penyebab penurunan jumlah penerima dari kategori keluarga prasejahtera ini,” tanya Puteri dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XI DPR RI pada Selasa (16/9/2025).
Dalam forum rapat dengar pendapat pada Selasa (16/9/2025), Puteri mempertanyakan alasan di balik menurunnya jumlah penerima dari kelompok ekonomi lemah tersebut. Ia menilai LPDP perlu menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi penurunan tersebut agar bisa dicarikan solusi.
Puteri juga menyerukan agar LPDP lebih berpihak pada kelompok prasejahtera dengan memperbesar porsi beasiswa pada seleksi mendatang. Menurutnya, masih banyak anak cerdas dari keluarga tidak mampu yang layak mendapat kesempatan menempuh pendidikan tinggi, sehingga keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang.
Dalam kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas Direktur Utama LPDP Sudarto menyampaikan bahwa pelaksanaan program LPDP senantiasa menjunjung tinggi prinsip inklusivitas. Hal ini diwujudkan melalui penambahan skema beasiswa afirmasi yang diantaranya mencakup keluarga prasejahtera.
“Pada prinsipnya, beasiswa LPDP itu adalah inklusif. Makanya, akan selalu ada afirmasi tadi, dengan nilai dan persyaratan yang lebih mudah daripada yang lain. Ini persis dengan apa yang disampaikan oleh Dewan Penyantun, adalah bagaimana kita bisa lebih lagi memberikan perhatian lebih terhadap beasiswa afirmasi,” ujar Sudarto.
Lebih lanjut, Puteri juga mendorong keberpihakan Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (PKN STAN) untuk calon mahasiswa yang berasal dari keluarga prasejahtera dengan menggratiskan biaya pendaftaran Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).
“Sekarang ini, pendaftaran SPMB masih dikenakan biaya sebesar Rp300 ribu per peserta. Tentu ini biaya yang cukup mahal, terutama bagi calon mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Padahal, biaya UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) untuk universitas hanya Rp200 ribu. Makanya, saya usulkan dalam kesimpulan rapat ini supaya biaya pendaftaran bagi keluarga prasejahtera bisa digratiskan,” ungkap Puteri.


















Discussion about this post